Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan: Wali Ke-10 ing Tanah Jawa - Santri Dafa

Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan: Wali Ke-10 ing Tanah Jawa



Catatan Kecil Sejarah Vol 2
Oleh: Firman Maulana Noor
Alumni : UI

Bagi jamaah ziarah di Cijati Majalengka dan Jawa barat pada umumnya, sepertinya belum afdol kalau melakukan tur ziarah Wali Songo tanpa berkunjung ke Makam Syaikh Abdul Muhyi di Pamijahan. Meskipun bukan termasuk dari wali songo dalam tradisi masyarakat jawa, namun hingga saat ini makam Syaikh Muhyi tetap ramai dikunjungi para peziarah baik dari Jawa Barat maupun diluar Jawa Barat. Kenapa hal itu bisa terjadi ? Seberapa pentingkah Tokoh Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan dalam perkembangan Islam di Jawa, terlebih lagi Jawa Barat ? 

Seorang filolog UI, Dr. Tommy Christomy, dalam desertasi doktoralnya di Australia National University yang berjudul "Signs of The Wali: Narratives at The Sacred Sites in Pamijahan", menyebutkan bahwa ziarah dan tarekat merupakan dua hal yang saling berkelindan di Pamijahan. Terdapat beberapa hal penting yang menjadikan Pamijahan dianggap sebagai "The Sacred Sites" oleh para peziarah, salah satunya adalah Genealogi Sufisme yang dimiliki oleh Syaikh Abdul Muhyi dalam silsilah Tarekat Syattariyah. Syaikh Abdul Muhyi sendiri adalah murid dari Syaikh Abdur Rauf Singkel, seorang tokoh yang pertama kali membawa Syattariyah ke Nusantara. Paham Tarekat Syattariyah mengambil bentuk dari ajaran Martabat Tujuhnya (The Seven Levels of Being) Ibnu Arabi.

Hubungan Guru-Murid antara al-Sinkili dengan Syaikh Muhyi menjadi sangat penting, khususnya dalam konteks persebaran Tarekat Syattariyyah ke wilayah Jawa. Banyak silsilah  tarekat di Jawa melalui dirinya yang diterimanya secara langsung dari al-Sinkili. Syaikh Abdul Muhyi sendiri belajar kepada Syaikh Abdur Rauf Singkel di Aceh sebelum berangkat menunaikan ibadah haji ke Mekah. Setelah kembali dari ibadah haji, Syaikh Muhyi kemudian menetap di Pamijahan dan memainkan peranan penting dalam mengubah kepercayaan masyarakat dari animisme menjadi Islam.

Meskipun sumber sumber yang ada tidak memberikan angka tahun kelahirannya, namun dari sejumlah manuskrip dan tradisi lokal menyebutkan Syaih Muhyi hidup sezaman dengan Syaikh Abdur Rauf Singkel dan Syaikh Yusuf al-Makasari. Bahkan Syaikh Yusuf Makasar pernah menulis sebuah manuskrip yang didedikasikan untuk Syaikh Abdul Muhyi. Oleh sebab itu Kraus dalam artikel tulisannya berpendapat bahwa Syaikh Abdul Muhyi hidup antara tahun 1640 sampai 1715.

Tidak seperti gurunya Abdar Rauf Singkel atau ulama-ulama nusantara abad 17 lainnya seperti Hamzah Fansuri, Nurudin Ar-raniri, yang menulis beberapa kitab, syaikh muhyi tidak meninggalkan karya tulisan apapun. Pengajaran Syaikh Muhyi lebih menitik beratkan kepada praktek kehiduapan sehari-hari. Selain itu juga pemerintah Belanda pada waktu itu melakukan pengawasan yang ketat kepada Syaikh Muhyi karena dianggap memberikan perlindungan kepada Syaikh Yusuf Makasar dan para pengikutnya dalam peristiwa pemberontakan di Kesultanan Banten.

Syaikh Abdul Muhyi dianggap sebagai  ulama-sufi sekaligus wali yang diyakini masyarakat setempat sebagai mendatangkan barakah dan secara tidak langsung mensejahterakan taraf kehidupan  masyarakat. Oleh sebab itu banyak masyarakat menganggap Syaikh Abdul Muhyi merupakan wali ke-10 di Tanah Jawa. Bahkan Rinkes, seorang ilmuwan Belanda pada tahun 1909 menulis buku 'The Nine Saints of Java' dan memasukan Syakh Abdul Muhyi pada chapter pertama buku tersebut. 

Mulai sekarang, bila ingin melakukan wisata religi, alangkah baiknya memasukan Makam Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan dalam daftar destinasi utama perjalanan tur anda. 

salaam 🙏

Want to get Attractive Offer Info?

Enter your email and get attractive offers from us

Pellentesque aliquam diam libero, eget aliquet neque facilisis sed. Nunc ornare suscipit velit, sit amet condimentum lorem posuere ut. Aliquam vehicula lacus tellus, eget mollis odio iaculis mattis.